EcoStory

Yuk, Kenalan dengan Empat Cenderawasih Endemik Pegunungan Arfak, Papua Barat

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Burung Black Sicklebill (Epimachus fastosus), Parotia Arfak (Parotia sefilata), dan Vogelkop Superb Bird-of-Paradise (Lophorina niedda) di Kampung Kwaw, Kabupaten Pegunungan Arfak, Papua Barat. (Yayasan EcoNusa/Lutfy M. Putra)

Kabupaten Pegunungan Arfak memiliki ekosistem yang istimewa. Dalam rentang wilayah administrasi seluas 2.600 kilometer persegi,  Pegunungan Arfak punya tiga tipe ekosistem yang berbeda, yakni hutan hujan dataran rendah, hutan hujan kaki gunung, dan hutan hujan lereng pegunungan. Tak heran bila daerah “kepala burung” dengan cuaca yang menyejukkan di Provinsi Papua Barat itu menjadi rumah bagi beragam flora dan fauna yang sangat kaya.

Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Papua Barat memperkirakan ada   110 spesies mamalia, 320 spesies aves, dan 2.770 jenis anggrek yang hidup di Pegunungan Arfak. Di antara ratusan spesies burung, salah satu famili aves yang “mencuri” perhatian dunia adalah anggota famili Paradisaeidae, yakni cenderawasih. Di sana hidup empat spesies cenderawasih yang hanya dapat ditemukan di Pegunungan Arfak. 

Mereka adalah Parotia Arfak (Parotia sefilata), Vogelkop Superb-bird-of-paradise (Lophorina niedda), Paradigalla Ekor Panjang (Paradigalla carunculata), dan Astrapia Arfak (Astrapia nigra). Vogelkop Superb Bird-of-Paradise tergolong “spesies muda” karena baru ditemukan pada 2016, saat ahli burung Edwin Scholesdan fotografer alam liar Tim Laman menyusuri hutan Tanah Papua untuk mengerjakan penelitian Bird-of-Paradise Project.

Sulit Ditemukan

Keempat burung cenderawasih tersebut tidak hanya menawan secara visual. Tingkah laku mereka dalam menarik perhatian lawan jenis layak diamati.  Mereka menari di hadapan lawan jenis bak “perayu ulung”.

Baca juga: Tarian Spektakuler Cenderawasih untuk Memikat Pasangan

Astrapia Arfak memiliki ekor yang sangat panjang, baik pejantan maupun betina. Untuk pejantan, panjangnya sekitar 60 cm, sedangkan betina 50 cm. Selain ukurannya, Arfak Astrapia pejantan memiliki warna bulu yang lebih beragam. Ada warna hijau di dada, pola garis kuning yang muncul memanjang di bawah mata, dan mahkota berwarna biru-keunguan. Sedangkan Arfak Astrapia betina relatif monoton dengan warna hitam di tempurung kepala dan cokelat di semua bagian tubuh lainnya.

Arfak Astrapia termasuk burung yang sulit ditemukan. Tak banyak dokumentasi yang berhasil merekam tingkah laku mereka, apalagi untuk mendapati bagaimana mereka menarik perhatian lawan jenis. Hal ini diakui oleh Tim Laman saat menyusuri hutan mencari pohon tempat Arfak Astrapia beraksi. 

Tim, Ed, dan Zeth Wongor, pemandu wisata di Pegunungan Arfak, berangkat menyusuri hutan sejak pukul 04.30 WIT, saat fajar belum menampakkan diri. Mereka mengikuti suara khas “klik” Arfak Astrapia untuk mencari pohon tempat mereka beraksi. Di hari terakhir perjalanan, Tim berhasil memotret pejantan yang sedang beraksi dengan memutar ke bawah tubuh mereka.

“Salah satu alasan sedikit dokumentasi burung ini (Astrapia Arfak) karena sangat sulit menemukan tempat mereka beraksi saat menarik perhatian lawan jenis. Anda bisa mendaki di sekitar hutan dan mungkin melihat mereka, kau tahu, mengamati burung. Namun untuk mendapatkan gambaran unik dari tingkah laku mereka, Anda harus menemukan tempat mereka beraksi dan itu menghabiskan banyak waktu di dalam hutan, terjaga sebelum fajar,” kata Tim Laman.

Baca juga: Kearifan Lokal Egek, Upaya Perlindungan Hutan Malaumkarta Raya

Perihal minimnya dokumentasi perilaku juga terjadi pada burung Paradigalla Ekor Panjang. Sejauh penelusuran di dunia maya, tak ada situs ensiklopedia burung yang merinci bagaimana karakteristik unik Long-tailed Paradigalla, khususnya saat musim kawin. Long-tailed Paradigalla termasuk burung monomorfik. Dengan kata lain, baik pejantan atau betina memiliki karakteristik yang hampir sama. Pembeda di antara kedua jenis kelamin hanyalah ukuran besar tubuh, penjantan sekitar 37 centimeter dan betina sekitar 35 centimeter. Karakteristik warna pun serupa, hanya kuning-biru-merah di antara mata dan paruh serta hitam di sekujur tubuh.

Balerina

Pertunjukan sesungguhnya dari burung endemik Pegunungan Arfak ditampilkan oleh Parotia Arfak dan Vogelkop Superb Bird-of-Paradise. Keduanya memiliki koreografi unik layaknya sebuah tarian magis untuk meyakinkan lawan jenis. Untungnya, mereka relatif lebih mudah ditemukan. Pertunjukan kerap kali berlangsung pada pagi atau sore hari.

Sebelum menari, Parotia Arfak membersihkan “lantai dansa” dari dedaunan, ranting, atau apapun yang akan mengganggu jalannya pertunjukan. Menurut David Attenborough, naturalis dan penyiar asal Inggris, hal ini juga berpengaruh pada tingkat kemungkinan sang betina berkunjung ke “lantai dansa”. Konon, sang betina hanya mau berkunjung melihat tariannya bila tempatnya bersih. 

“Dia (Parotia Arfak) mengawali tariannya dengan membungkuk. Kemudian mata birunya sekejap menampilkan warna kuning,” ujar David. 

Baca juga: Ridho Hafiedz Terpikat Burung Surga Tanah Papua

Tentu saja koreografi nan ciamik itu tidak terjadi dalam semalam. Sejak remaja, saat sekujur tubuhnya didominasi oleh warna coklat, Parotia Arfak telah berlatih setiap gerak tarian. Menurut Ed Scholes, latihan koreografi tersebut bahkan dilakukan dengan menyendiri usai mereka melihat bagaimana Parotia Arfak dewasa berdansa, layaknya manusia berlatih secara individu. 

“Mereka saling berlatih. Satu pejantan remaja berperan sebagai betina, sementara pejantan remaja lainnya menari. Peran ini mereka lakukan secara bergantian,” tutur Ed.

Melindungi Hutan

Ekosistem Pegunungan Arfak adalah harta karun bagi dunia. Masyarakat hukum adat, yakni Suku Hatam, Suku Sough, Suku Meyakh, dan Suku Moley, secara turun-temurun telah melindungi ekosistem menggunakan pengetahuan lokal yang mereka miliki. Mereka memiliki banyak istilah lokal yang digunakan untuk menerjemahkan praktik kearifan lokal.   Suku Hatam misalnya, menggunakan kearifan lokal igya ser hanjob dalam menata ruang kehidupan mereka sekaligus menjaga ekosistem. Secara harfiah, igya ser hanjob berarti menjaga batas. 

Dalam keseharian, Suku Hatam melakukan aktivitas mereka berdasarkan pembagian ruang dari igya ser hanjob. Wilayah susti digunakan untuk tempat bermukim, berkebun, dan rumah ibadah. Nimahamti adalah kawasan penyangga (buffer zone), tempat masyarakat berburu dan meramu atas izin kepala adat. Sedangkan bahamti adalah zona hutan primer yang tidak boleh dirusak. Mereka melakukan ini untuk menjaga hutan dan seluruh isinya, termasuk cenderawasih di Papua Barat.

EcoBlogs Lainnya

Copyright ©2021.
EcoNusa Foundation
All Rights Reserved
Copyright ©2021.
EcoNusa Foundation
All Rights Reserved