EcoStory

Ekowisata Kampung Malagufuk, Menjaga dan Merawat Hutan

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Kampung Ekowisata Malagufuk, Distrik Makbon, Kabupaten Sorong, Provinsi Papua Barat (Yayasan EcoNusa/Moch. Fikri)

Ekowisata mengubah kehidupan masyarakat Kampung Malagufuk, Distrik Makbon, Kabupaten Sorong, Provinsi Papua Barat. Masyarakat Malagufuk tak lagi mengandalkan hasil penjualan pertanian. Karena selama ini mereka harus berjalan kaki sejauh 3 kilometer untuk bisa menjual hasil pertanian. Kini mereka tidak perlu menjual jauh-jauh hasil pertanian mereka. Mereka menyuguhkannya kepada para tamu wisata yang berkunjung ke Malagufuk untuk pengamatan burung (birdwatching).

Kampung Malagufuk terbentuk pada November 2014 sebagai hasil pemekaran Kampung Malumkarta, Kabupaten Sorong. Dalam usianya yang relatif muda, ekowisata membantu menghidupi masyarakat sambil menjaga hutan alam Klasow. Dominggus Kalami, yang akrab disapa Absalom, keturunan Suku Moi, menjadi salah satu saksi bagaimana ekowisata memberikan dampak kepada masyarakat dan upaya perlindungan hutan.

Dulu Absalom bekerja sebagai petani sebelum masyarakat mengetahui potensi ekowisata di Kampung Malagufuk. Kesehariannya diisi dengan mengolah lahan dan sayur-mayur untuk dijual ke pasar. Absalom tak pernah berpikir untuk mendapatkan uang dengan menebang kayu atau memburu hewan liar yang hidup di hutan. Orang tuanya selalu menanamkan pentingnya hutan Klasow bagi Suku Moi.

“Dari nenek moyang turun sampai ke saya punya orang tua, mereka berpesan bahwa hutan itu sangat bermanfaat. Kami sama sekali tidak berpikir untuk menangkap burung lalu dijual di pasar,” kata Absalom.

Tak pernah terlintas dalam benak Absalom untuk mengembangkan ekowisata. Hingga suatu hari pada tahun pertama kampung berdiri, seorang pemandu wisata lokal bernama Charles Roring datang ke Malagufuk. Charles melihat potensi ekowisata setelah dia meminta izin memasuki hutan Klasow pada akhir November 2014. Setelah keluar hutan, Charles sempat berpesan agar masyarakat tetap menjaga hutan.

Absalom membawa sayur-mayur untuk wisatawan
(Yayasan EcoNusa/Moch Fikri)

“Dia masuk (hutan) dan mengatakan bahwa lokasi ini sangat bagus untuk dijadikan ekowisata. Hutannya bagus, bisa menjanjikan untuk hari esok dan semua tamu pasti akan datang ke sini,” tutur Absalom mengisahkan Charles.

Pengenalan Ekowisata

Charles adalah orang lama di dunia pariwisata. Saat ini dia menjabat sebagai pengurus Dewan Pimpinan Daerah Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Provinsi Papua Barat. Charles aktif mempromosikan pariwisata Tanah Papua di media sosial dan menuliskan ulasan suatu daerah di sejumlah blog.

Saat bertandang ke Malagufuk, HPI Papua Barat belum berfungsi dengan baik. Dia berangkat atas inisiatif pribadi bersama Nico Nauw yang saat ini menjabat DPC HPI Tambrauw, ditemani dua pemuda Malagufuk, Kostan Magablo dan Luxen Paa, saat memasuki hutan Klasow.

Charles berdarah Minahasa, Sulawesi Utara, dari kedua orang tuanya. Lahir dan besar di Tanah Papua menumbuhkan kecintaannya kepada alam. Bersama teman-temannya, sejak kecil dia telah membelah hutan di Manokwari dan menyelam di pantai. Charles percaya alam merupakan penunjang kehidupan masyarakat Tanah Papua. Hutan menjadi sumber pangan, obat-obatan, kayu bakar, dan udara bersih. Ini pula yang membuat Charles memilih terjun ke dunia ekowisata.

Selepas berpisah dengan Absalom, Charles menulis ulasan potensi ekowisata Kampung Malagufuk untuk meyakinkan tamu berkunjung. Tulisan berjudul “Wisata Pengamatan Burung di Sorong” dipublikasikannya pada 22 Agustus 2016. Dalam tulisan tersebut Charles menjelaskan komponen wisata seperti atraksi, akomodasi, aksesibilitas, dan kegiatan apa saja yang dapat dinikmati oleh para pelancong.

“Saya menulis ratusan artikel tentang perjalanan wisata di internet. Dari sana banyak orang membacanya, kemudian tertarik berkunjung ke Papua Barat. Tamu pertama yang datang ke Malagufuk berasal dari Jerman,” kata Charles.

Hutan Klasow cukup jauh dari Kota Sorong. Tak sembarang kendaraan mampu melewati jalan yang tak bersahabat. HJanya mobil bergardan ganda 4WD seperti HiLux, Fortuner, dan Strada yang kuat. Waktu tempuh dua jam perjalanan terbayar dengan tingginya keragaman hayati yang menghuni Klasow. Ada Cendrawasih Kuning Kecil (Lesser bird-of-paradise), Magnificent Riflebird (Ptiloris magnificus), Golden Myna (Mino anais), Rufous Bellied Kookaburra (Dacelo gaudichaud), Moustached Treeswift (Hemiprocne mystacea), Papuan hornbill (Rhyticeros plicatus) dan banyak spesies burung lainnya. Ada pula Kupu-kupu Sayap Burung (Ornitopthera priamus), kupu-kupu yang memiliki rentang sayap seperti sayap burung.

Dalam perjumpaan pertama itu Absalom sempat meragukan Charles. Dia tak tak mengetahui rekam jejak Charles dalam dunia pariwisata. “Nah dari situ saya berpikir apakah (ekowisata) ini benar atau tidak,” kenang Absalom.

Beberapa waktu kemudian Charles dan pemuda Malagufuk lainnya bekerja sama membangun ekowisata. Charles mengajarkan pemuda Malagufuk cara mengidentifikasi burung-burung di hutan Klasow dan membagikan teropong binokular, buku, serta laser pointer.

“Saya juga minta tamu tinggalkan buku Birds of New Guinea di kampung agar warga bisa belajar.  Setelah itu pemuda kampung lainnya juga belajar birding termasuk Absalom, Yance, Obaja, dan lain-lain. Anak-anak kecil juga belajar birding seperti Kelvin, Andreas, dan Roy,” kata Charles.

Mengembangkan ekowisata Malagufuk

Sejak itulah, Absalom bertekad untuk mengembangkan ekowisata birdwatching di Kampung Malagufuk. Salah satu tantangan Absalom dalam mengelola ekowisata adalah komunikasi dengan para tamu. Saat itu dia belum terbiasa dengan bahasa asing. Untuk menyikapi tantangan ini, Absalom punya kiat tersendiri. Ia membuat catatan kecil berisi kata-kata yang sering diucapkan dalam bahasa Inggris. Sebelum menjemput tamu di bandara, dari rumah Absalom sudah menghafal sejumlah kalimat dalam Bahasa Inggris. Untunglah Charles membantu memberikan pengertian kepada para tamu tentang hal ini.

“Kata sorry itu selalu dipakai adik-adik dan saya di kampung untuk  permisi. ‘Oh Mister, you looking bird-of-paradise? You see?’ Kami pakai kode tangan. Pokoknya bisa bikin tamu agak mengerti dengan apa yang kita maksud,” ucap Absalom.

Sebetulnya tak ada keunggulan hutan Klasow dibanding hutan lainnya di Tanah Papua. Di sana, hutan primer menjadi habitat bagi begitu banyak spesies dengan tingkat biodiversitas yang tinggi. Mereka sangat mengamini falsafah nenek moyang agar tak merusak hutan. Selain itu, masyarakat Malagufuk percaya bahwa para pelancong adalah kerabat mereka yang baru saja datang. Menurut Absalom, keramahan itu membuat tamu yang berkunjung tak pernah meninggalkan keluhan di buku tamu.

Pada tahun pertama ekowisata tumbuh di Malagufuk, Absalom dan rekannya menerima 150 tamu. Tahun berikutnya tingkat kunjungan naik menjadi 200 orang, dan 250 orang hingga akhir 2019. Tahun 2020 baru 10 tamu yang berkunjung. Menurut Absalom, 50 persen wisatawan berasal dari negara lain seperti Belanda, Inggris, India, Jepang, Korea, Jerman, Brazil, dan Italia.

Cendrawasih kuning kecil di Kampun Malagufuk (Yayasan EcoNusa/Moch. Fikri)

Kehidupan masyarakat Malagufuk perlahan berubah. Masyarakat mengurangi penjualan hasil pertanian ke pasar. Mereka mengolah sendiri hasil pertanian untuk  disuguhkan kepada para wisatawan. Menurut Absalom, dalam satu kali lawatan, masyarakat menerima pendapatan sekitar Rp7-8 juta. Penghasilan ini dibagi kepada semua orang yang berperan, dari pramuantar, pemandu, dan koki. Kampung Malagufuk kini punya tiga homestay yang dapat dihuni para tamu. Absalom merupakan pemilik dan pengelola Homestay Israel. Nama ini diambil dari nama anaknya.

“Dari keuntungan itu kami bangun gereja, beli tanki air, bangun empat unit toilet. Anak-anak mereka bisa sekolah. Anak-anak tidak meminta biaya transportasi kepada orang tua. Karena mereka juga bekerja jadi pemandu wisata. Kesan yang terbaik yang kami lihat adalah sampai hari ini para pengunjung tidak pernah meninggalkan sampah di kampung. Itu kesan yang terbaik buat masyarakat,” ucap Absalom.

Bagi Absalom, hutan adalah ibu yang selalu memberi penghidupan dari generasi ke generasi. Dia bersyukur hutan Klasow masih terawat hingga saat ini. Menurut Absalom, ekowisata menjadi salah satu penyebab hutan Klasow dan ekosistem di dalamnya masih terjaga. Di sisi lain, masyarakat mendapatkan penghasilan untuk melanjutkan penghidupan.

“Ternyata ekowisata ini bagus. Hutan kami terjaga dengan baik. Ekosistemnya tidak dirusak, habitat terjaga, dan menghasilkan bagi masyarakat. Kalau hutan habis kami bingung mau ke mana. Saya ajarkan keluarga saya bagaimana bercocok tanam yang baik sehingga hutan itu jangan sampai hancur lebur. Kami lihat teman-teman lain hutannya sudah habis. Mereka mau ambil kayu bakar saja susah, mau timba air tidak ada,” kata Absalom.

Absalom berharap ekowisata tetap ada karena dengan ekowisata masyarakat mampu mempertahankan hak dan wilayahnya. Ia yakin bahwa ekowisata dapat mengendalikan hutan Klasow serta seluruh hutan yang ada di Indonesia.

Hari Hutan Internasional pada 21 Maret baru saja diperingati dengan mengusung tema “Hutan dan Biodiversitas”. Bertepatan dengan peringatan tersebut, kisah hidup masyarakat Kampung Malagufuk dan berbagai tempat lainnya menjadi langkah konkret.  Semua orang bisa belajar dan memahani bagaimana ekowisata menyelaraskan hutan dan keragaman hayatinya, sambil tetap memberikan penghidupan bagi masyarakat sekitar.

Editor: Leo Wahyudi

EcoBlogs Lainnya

Copyright ©2021.
EcoNusa Foundation
All Rights Reserved
Copyright ©2021.
EcoNusa Foundation
All Rights Reserved