EcoStory

Anak Muda Mandiri Hasilkan Pangan di Kampung Mlaswat

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Anak muda di Kampung Mlaswat mengelola kebun kampung mereka di kampung Mlaswat. (Dok. EcoNusa/ Yoab Sagisolo)

Pemenuhan pangan merupakan kebutuhan manusia paling mendasar.  Ketahanan dan kemandirian masyarakat untuk menghasilkan bahan pangan sendiri memerlukan pertanian berkelanjutan. Sayangnya, di era modern ini tak banyak anak muda yang memiliki ketertarikan pada kegiatan pertanian. Padahal, ketika pandemi Covid-19 menghambat distribusi antarwilayah seperti saat ini, kemandirian dan ketahanan pangan amat diperlukan agar masyarakat tak bergantung pada pasokan pangan dari wilayah lain maupun dari bantuan pemerintah. 

Untunglah masih ada anak muda peduli pertanian di Papua Barat. Berbeda dengan teman-teman sebaya yang mulai merantau dan merindukan kehidupan perkotaan yang modern, Naomi Kemesrar (19 tahun) dan Yoab Sagisolo (23 tahun), dua anak muda dari Kampung Mlaswat, Distrik Saifi, Kabupaten Sorong Selatan, Papua Barat, yang juga merupakan kampung dampingan dari LSM Bentara Papua ini, justru gigih mengelola kebun kampung mereka dengan mempraktikkan kegiatan pertanian. Keduanya aktif bercocok-tanam sejak ikut Sekolah Transformasi Sosial (STS) November 2019 silam hingga kini. 

STS merupakan  bagian dari rangkaian kegiatan School of Eco Involvement  (SEI) yang diadakan Yayasan EcoNusa bekerja sama dengan Indonesian Society for Social Transformation (INSIST). Tujuannya membangun ketangguhan kampung di bidang pangan, energi, dan pengelolaan lingkungan. Selama kegiatan berlangsung, para peserta wakil dari kampung-kampung terpilih diajarkan cara bercocok tanam secara organik dengan memanfaatkan sumber daya yang ada di kampung masing-masing.

Seorang pemuda sedang mengukur PH tanah. (Dok. EcoNusa/Yoab Sagisolo)

Selain Mlaswat, kegiatan ini diikuti peserta dari 9 kampung lain di Papua Barat, yakni Suswa – Kombif, Malalilis, Klatomok, Klasowoh, Malawer, Klayili, Kwakeik dan Kamandu Tetar. Usai mengikuti STS, peserta meneruskan Sekolah Kampung atau Sekolah Lapang. Selama 3 bulan, mereka mempraktikkan pengetahuan yang didapatkan dari STS di kampungnya masing-masing.

Baca juga: Mengolah Benih untuk Ketahanan Pangan

“Dulu sebelum belajar pertanian, setiap hari sepulang sekolah hanya diisi duduk-duduk saja. Paling bantu orang tua ke hutan cari buah-buahan atau tangkap ikan. Sekarang sibuk di kebun hampir setiap hari. Saya pun jadi tahu kalau pertanian itu ternyata penting. Kita jadi tahu cara menanam yang betul. Biar tanaman tidak mati, harus dikasih pupuk, biar subur. Kita bisa petik sayur sendiri tanpa harus pergi ke pasar,” ujar Naomi ketika dihubungi tim EcoNusa. 

 Menurut Naomi, di kampungnya sebetulnya banyak anak muda yang menempuh pendidikan pertanian di universitas di kota besar. Tapi ketika kembali ke kampung, tidak banyak yang menularkan ilmu untuk membangun kampung. Hal itu yang mendorongnya ingin membagi ilmu pertanian kepada warga kampung, agar semua orang punya ilmu dasar pertanian. Senada dengan Naomi, Yoab pun mengatakan hal yang sama. 

“Anak muda di kampung ini, bisa dibilang hanya kami berdua yang mengerti betul pertanian modern. Banyak anak muda di kampung yang sekolah tinggi di kota ambil jurusan pertanian, tapi mereka kurang bisa mengembangkan ilmu. Justru mereka malah sering bertanya pada saya cara bertani secara modern itu seperti apa caranya,” ujar Yoab.

Yoab sebetulnya sudah mengenal dunia pertanian sejak kecil karena orang tuanya petani. Namun, cara bertani yang ia ketahui sebatas pertanian liar. Buka lahan lalu tinggalkan. Sejak ikut sekolah lapang, ia jadi lebih paham ilmu pertanian modern yang tidak merusak alam. Bersama Naomi, ia pun menularkannya ilmunya itu kepada orang tua dan masyarakat kampung. 

Yoab sedang bekerja mengelola kebun di kampungnya. (Dok. EcoNusa) 

Jika Naomi hanya menanam sayuran, seperti kangkung, kacang panjang, bayam, sawi, dan rica atau cabai, Yoab berbeda. Selain sayuran, ia juga menanam buah dan tanaman obat, seperti pohon pepaya, daun gatal, daun afrika, dan sirih. Ia membudidayakan tanaman obat bukan tanpa alasan. Di kampungnya jenis-jenis tanaman obat yang diketahui warga terbatas. Maka, ia menanam tanaman obat sekaligus memberi pengetahuan warga bahwa di sekitar kampungnya, sebenarnya banyak tanaman obat berkhasiat yang bisa dibudidayakan.

Baca Juga: Warga Samo Membangun Kemandirian Pangan

Selain untuk memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari, baru-baru ini Yoab menanam sirih dan berencana menjualnya. Sirih cukup diminati warga karena budaya mengunyah pinang dan sirih masih kental dilakukan di kampungnya. Menurutnya, pinang mudah didapatkan, namun sirih sulit sekali diperoleh. Masyarakat harus masuk hutan untuk memperoleh daun sirih. Berkat Yoab, kini masyarakat tak perlu jauh-jauh masuk hutan karena bisa memetiknya di kebun kampung.  

Tanaman obat yang dikembangkan Yoab dan pemuda-pemuda di Mlaswat. (Dok. EcoNusa/Yoab Sagisolo)

Sebelum mengikuti STS, Yoab sebetulnya sedang bersiap untuk merantau ke kota mengikuti jejak teman-temannya. Namun, ia mengurungkan niatnya dan memutuskan tetap tinggal di kampung. Setelah mengikuti sekolah lapang dan mengelola kebun kampung, ia pun semakin mantap dengan keputusannya untuk tetap tinggal di tanah kelahirannya. Ia ingin fokus mengembangkan potensi kampungnya dengan bercocok tanam. 

“Tanah Papua ini luas. Tapi kebanyakan generasi muda cuma fokus untuk cari pendidikan tinggi tapi tidak banyak yang mau mengangkat potensi kampung. Sebelum saya mulai berkebun, belum ada yang berinisiatif membuat kebun organik yang modern. Jadi, ketimbang merantau ke kota, saya pilih di kampung dan mengajak orang muda lain yang tak punya biaya untuk lanjut sekolah agar tetap produktif dengan berkebun. Apalagi sekarang ekonomi sulit. Kebun ini sangat membantu karena saat kita butuh makan tinggal petik sayur,” tutur Yoab melalui sambungan telepon dengan tim EcoNusa. 

Baik Yoab maupun Naomi yang juga merupakan relawan Bentara Papua ini memiliki mimpi besar. Suatu hari usaha mereka menanami kebun kampung dengan macam-macam tanaman pangan serta mengembangkan bibit dan pupuk dapat menjadi sumber penghasilan bagi warga di kampung Mlaswat. Keduanya berharap, hasil kebun maupun bibit-bibit yang dikembangkan itu dapat dijual ke kampung atau daerah lain di kemudian hari. 

Penduduk Kampung Mlaswat dengan tanaman yang dikembangkan. (Dok.EcoNusa/Yoab Sagisolo)

”Warga yang mandiri memenuhi kebutuhan pangannya sendiri tentu tak akan mudah tergiur dengan tawaran pihak lain yang ingin menguasai sumber daya alam di sekitar kampung. Tetapi, kalau anak muda tak ada lagi yang tertarik bertani dan memuliakan tanah mereka, suatu saat nanti kita bisa benar-benar kehilangan tanah, sumber air, sumber pengetahuan dan sumber penghidupan. Melalui rangkaian Program School of Eco Involvement, salah satunya STS ini, Yayasan EcoNusa berharap pesertanya menjadi kader-kader tangguh dan mandiri, mampu mengambil keputusan atas sumber-sumber hidupnya, dan menjadi penggerak untuk kampungnya,” ungkap Carmelita Mamonto, Koordinator Program SEI dan Penghubung Program Region Maluku Yayasan EcoNusa.

Editor: Leo Wahyudi

EcoBlogs Lainnya

Copyright ©2021.
EcoNusa Foundation
All Rights Reserved
Copyright ©2021.
EcoNusa Foundation
All Rights Reserved