Defending Paradise

Cenderawasih dalam Adat Papua, Adik yang Menjelma Menjadi Burung

Tulisan Terkait

Cenderawasih menjadi salah satu keluarga burung dilindungi dan menjadi identitas budaya masyarakat adat di Tanah Papua. Cenderawasih juga memiliki nilai adat yang sangat spesial jika dibandingkan dengan burung atau satwa lainnya. Cerita rakyat tentang cenderawasih dikisahkan turun temurun oleh para orang tua kepada generasi berikutnya. 

Gustaf Toto, pemimpin adat atau Ondoafi Kampung Necheibe, Distrik Ravenirara, Kabupaten Jayapura, membagikan cerita rakyat yang dipercaya oleh masyarakat adat sebagai asal usul burung cenderawasih, sang burung surga yang menempati posisi penting dalam adat. 

“Menurut cerita orang-orang tua zaman dulu, ketika Tuhan menciptakan kehidupan di lingkup wilayah ini, di situ tinggal dua kakak beradik lelaki. Karena memperebutkan kekuasaan, sang kakak membunuh adiknya. Namun, saat hendak menguburkannya pada sore hari, jasad sang adik telah berubah menjadi burung cenderawasih kuning dan terbang ke udara. Ketika sang kakak menyesali perbuatannya, sang adik meminta kakaknya agar tidak bersedih. Ia berkata, ‘Kakak, ketika ko bikin pesta dan tari-tari besar atau kecil, saya akan datang dan dansa (menari) dari atas sebagai burung jahe (cenderawasih),” Ondoafi Gustaf Toto berkisah 

Dalam ketentuan adat, ketika diadakan acara-acara besar atau pertemuan khusus, Ondoafi tertua akan memakai mahkota berornamen cenderawasih kuning asli. Mahkota ini diwariskan turun temurun kepada Ondoafi dari generasi ke generasi. 

“Jadi, hanya khusus mahkota burung kuning ini dipakai oleh Ondoafi yang tertua. Ini bukan burung biasa, tapi ini adik. Saya manusia kakaknya, burung jahe ini adiknya. Hanya Ondoafi yang tertua yang boleh memakainya. Jadi tidak bisa dipakai sembarang orang. Dari dulu sampai hari ini begitu. Kalau yang sering dipakai masyarakat itu mahkota imitasi,” Ondoafi Toto menegaskan. 

Ondoafi Toto juga menjelaskan mengapa seorang Ondoafi harus memakai mahkota ini tersebut. “Karena mahkota burung ini bukan burung biasa. Burung ini jelmaan adik. Dalam adat, mahkota ini dipakai oleh yang tua. Karena adik sayang kakak dan sebaliknya, maka ketika kakak mengadakan pesta dan pertemuan, adik akan ikut bersama kakaknya, dan berdansa (menari) dari atas,” lanjut Ondoafi Toto. 

Hendra Maury, Ahli Ekologi Universitas Cenderawasih, mengatakan bahwa penempatan burung cenderawasih menjadi burung sakral yang disamakan dengan burung surga dapat dilihat pada cara masyarakat adat memberikan kehormatan tersebut, yakni mahkota sebagai atribut adat tidak bisa dipakai sembarang orang. 

“Yang berhak menggunakan ornamen cenderawasih ini hanya orang tertentu. Ini sebenarnya masyarakat adat menerjemahkan konsep alam ke dalam budaya mereka. Jadi masyarakat adat menempatkan cenderawasih menjadi burung sakral dan spesial, sehingga tokoh adat yang menggunakan ornamen itu diyakini sebagai orang yang diutus untuk memimpin masyarakat di komunitas lokalnya,” kata Hendra. 

Dalam tradisi dan budaya, masyarakat adat telah memasukkan konsep konservasi ke dalam konsep budaya secara turun temurun secara lisan. Kedudukan hutan dianggap sebagai ibu yang memelihara kehidupan yang kemudian melahirkan aturan adat untuk tidak merusak hutan. Sedangkan cerita rakyat yang menempatkan cenderawasih sebagai jelmaan adik dari manusia ini kemudian melahirkan aturan adat yang melarang masyarakat untuk memburu, memanah, menyakiti maupun mengusik pohon-pohon yang jadi rumah burung cenderawasih.

Di samping dikaitkan dengan cerita rakyat itu, mahkota cenderawasih kuning yang dipakai oleh Ondoafi juga merupakan tanda dan pengukuh kedudukan Ondoafi sebagai pemimpin adat dalam sistem pemerintahan adat. Mahkota itu menjadi legitimasi dan pengakuan bahwa Ondoafi sebagai pemimpin adat memiliki kewenangan dan kekuasaan untuk menyelenggarakan pemerintahan secara adat demi kesejahteraan masyarakat.

Eratnya kaitan burung cenderawasih dan pemimpin adat juga membawa keyakinan masyarakat adat bahwa kedatangan burung cenderawasih menandakan terjadinya peristiwa dalam lingkup adat. 

Wawancara: Novie Sartyawan, Astried, Robertho Yekwam

Penulis: VA. Wulandani

Editor: Leo Wahyudi

Artikel Lainnya

Copyright ©2022.
EcoNusa Foundation
All Rights Reserved