EcoStory

Kampung Tanggaromi, Potret Kemandirian Komunitas di Kaimana

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Proses pengangkutan pisang di Pelabuhan Tanggaromi menuju Timika. (Foto: Dinas Karantina Kabupaten Kaimana)

Siang itu matahari baru bergeser ke arah barat saat kendaraan yang membawa tim EcoNusa melaju perlahan menuju Kampung Tanggaromi, Kabupaten Kaimana, Papua Barat. Menurut, Alo, salah satu staf lapangan EcoNusa, perjalanan dari Kaimana ke Tanggaromi sekitar 45 menit. Kampung Tanggaromi dikenal sebagai sentra buah pisang yang menjadi pemasok utama ke pasar Kabupaten Timika, Papua. Pisang yang dikirim ke Timika merupakan buah pisang segar. Pisang itu belum diolah menjadi makanan setengah jadi ataupun makanan jadi.

Saat tiba di Tanggaromi, tim EcoNusa disambut kehangatan Mama-Mama kampung yang sedang bersantai di teras-teras rumah sambil mengunyah buah pinang dicampur bunga sirih. Dari pakaian yang dikenakan, kami menerka mereka baru pulang dari ladang. Kami kemudian diajak berkumpul di balai kampung oleh salah seorang fasilitator yang sudah lama mendampingi Mama-Mama. Anton Namanya. Dia seorang pegawai negeri sipil di lingkungan Bappeda Kabupaten Kaimana. Namun dia lebih senang membantu para perempuan Tanggaromi untuk mengelola hasil bumi terutama pisang. Ia bahkan pernah mencatat hasil timbangan pisang yang diangkat ke kapal di 2018 totalnya mencapai 1000 ton selama dua belas bulan itu.

Di balai kampung ada sekitar 10 mama-mama dan 5 orang tim EcoNusa. Anton bercerita kepada mama-mama kenapa dia membawa kami dan menjelaskan siapa dan apa tim EcoNusa. Lebih lanjut Kepala rombongan menyampaikan bahwa tim EcoNusa ingin memiliki kegiatan yang sama dengan para mama di Tanggaromi dalam mengelola sumber daya alam yang ada. “Kami ingin bersama membangun kemandirian masyarakat Tanggaromi. Kami ingin belajar bersama Mama-mama Tanggaromi mengelola kampung, mengolah pisang, dan hasil bumi lainnya,” kata Muhammad Farid, pemimpin rombongan tim EcoNusa.

Salah satu Mama, Teresia, bercerita dengan semangat bahwa hasil bumi berupa pisang dari Tanggaromi dikirim ke Timika untuk memenuhi kebutuhan perusahaan pertambangan di sana. “Ada pisang ambon, pisang raja, pisang kepok dan pisang emas yang biasanya kami kirim ke Timika,” tutur Mama Teresia. Pisang dari Tanggaromi dikirim melalui tol laut yang dibuat oleh Presiden Jokowi setiap Sabtu pada minggu kedua dan minggu keempat. Pisang yang dikirim tersebut harus melewati karantina terlebih dahulu untuk bisa dikirim ke Timika melalui laut. “Harga pisang kami per tandan Rp 40.000 dengan bobot tandan sekitar 35 kilogram. Dahulu kami menjual langsung ke Timika, dengan menggunakan kapal kecil berbobot 750 DWT. Kami bisa mendapat keuntungan lebih banyak, hanya terasa lebih capek, karena kami harus mengangkut dan mengurus sendiri,” kata Mama Teresia.

Kampung Tanggaromi terletak di muara Teluk Arguni, Papua Barat. Komoditas yang dikelola masyarakat adalah pisang, kelapa, kopra. Karena terletak di muara, posisi Tanggaromi menjadi sangat strategis dalam jalur distribusi komoditas dari kampung-kampung yang berlokasi di dalam pesisir teluk. Nelayan tangkap dan masyarakat dari Teluk Arguni Atas dan Arguni Bawah juga bersandar di Tanggaromi untuk memuat hasil tangkapan di laut dan hasil kebunnya agar dapat diangkut ke Kota Kaimana. Petani kopra di sebelah utara di pesisir teluk mengirimkan hasil olahannya melalui Tanggaromi.  Dengan posisi strategis ini, Tanggaromi sudah seperti Singapura-nya Teluk Arguni. Hasil ikan melimpah ditambah hasil pertanian yang beraneka bentuk semuanya harus melewati Tanggaromi.

Sekarang para mama menjual pisang hanya sampai di pelabuhan  di Kampung Tanggaromi. Namun ternyata para mama harus membayar lebih banyak pihak. “Biasanya kami harus bayar macam-macam sebelum pisang kami naik ke kapal. Belum lagi buruh angkut yang sudah pasti harus kami bayar. Kondisi ini yang membuat keuntungan dari penjualan pisang menjadi sedikit,” kata Mama Teresia. Mereka menjual secara sendiri-sendiri ke penampung di pelabuhan sehingga para perempuan itu tidak punya kekuatan untuk tawar menawar. “Ini juga menjadi masalah tersendiri,” pungkas Mama Teresia.

Anton menambahkan kondisi perniagaan pisang dari Tanggaromi ke Timika. “Perniagaan yang dilakukan secara mandiri membuat mama-mama sangat mudah ditekan mengenai harga. Pada akhirnya mama-mama hanya menerima sedikit dari hasil penjualan pisang,” kata Anton.  Untuk mengirimkan pisang melalui jalur laut ke Kabupaten Timika harus melewati pengecekan Dinas Karantina. Setiap penjual harus memiliki surat ijin dari dinas ini. Satu kali pengiriman, rata-rata Dinas Karantina mengeluarkan 7 surat ijin untuk pengiriman 40 ton buah pisang.

Tidak terasa, tim EcoNusa sudah menghabiskan waktu tiga jam di Tanggaromi. Kami beruntung dapat menikmati senja di muara Teluk Arguni sebagai salah satu yang terbaik di Kaimana selain keindahan senja di Kota Kaimana terutama di Taman Jokowi Iriana yang terkenal itu. Setelah mengambil beberapa gambar, tim EcoNusa melanjutkan perjalanan ke Kota Kaimana. Sebelum pulang, kami berjanji akan kembali pada esok hari untuk melakukan kegiatan di ladang bersama para mama di Kampung Tanggaromi.

Editor: Leo Wahyudi

EcoBlogs Lainnya

Copyright ©2021.
EcoNusa Foundation
All Rights Reserved
Copyright ©2021.
EcoNusa Foundation
All Rights Reserved