Mangrove Expedition: From Emission, Tradition, to Sasi
 02 December 2019 - 16 December 2019
 Papua Barat
Ended

The land of Papua and mangroves are two inseparable things. Half of Indonesia’s mangrove forests are located in Papua and West Papua. The mangrove forest cluster is relied on to prevent abrasion, and is predicted to be able to stop the rate of global warming because of its ability to absorb carbon dioxide emissions. If you look closely, the mangrove forest is also the foundation of life for the local community, a source of livelihood.

EcoNusa in collaboration with the Regional Research and Development Agency of West Papua Province, the Faculty of Forestry, University of Papua, and World Resources Indonesia (WRI) conducted the 2019 Mangrove Expedition. For 15 days, the team traveled along 1013 kilometers of the south coast of West Papua, visiting 9 villages in 5 districts to explore to record the mangrove ecosystem that grows in hazy water and the community’s interaction with the mangrove forest.

Ittinerary

Kampung Kambala ditumbuhi mangrove air kabur, yakni hutan mangrove dengan kondisi air yang kabur dengan dasar yang belumpur tebal. Masyarakat memanfaatkan mangrove sebagai kayu bakar dan alat penyangga untuk membuat bangunan baru. Mereka juga memanen teripang untuk dijadikan lauk sehari-hari dan dijual sampai ke Surabaya. Masyarakat Kambala melindungi hutan bakau mereka, antara lain, dengan tradisi upacara adat Sinara. Upacara itu akan menentukan siapa yang bisa masuk dan bisa memanfaatkan hutan mangrove tersebut.

 

Baca juga: Mangrove Kambala, Minim Pemanfaatan Kaya Potensi

Kampung Air Besar ditumbuhi mangrove air kabur. Hutan mangrove di kampung tersebut masih lebat dan asri. Masyarakat Air Besar jarang memanfaatkan keberadaan rimba itu. Biasanya, hanya ada 2-3 orang yang memancing ikan dan kepiting untuk disantap sebagai lauk sehari-hari.

Baca juga: Mangrove di Air Besar dan Pager Kindik Belum Termanfaatkan

Kampung Pager Kindik ditumbuhi mangrove air kabur. Hutan mangrove di wilayah ini masih asri dan lebat. Namun, masyarakat setempat belum memanfaatkan hutan mangrove di kampung mereka karena minimnya sosialisasi mengenai pemanfaatan mangrove. Sayangnya, meski masih asri, luas hutan mangrove menurun lantaran terkena proyek pembangunan jalan raya antardesa.

Baca juga: Mangrove di Air Besar dan Pager Kindik Belum Termanfaatkan

Bagi masyarakat Kampung Mandoni, kepiting yang hidup dalam hutan mangrove adalah makhluk penting. Ketika musim panen tiba, mereka bisa mendapatkan Rp1 juta dari hasil penjualan hewan tersebut. Uang itu mereka gunakan, antara lain, untuk membiayai sekolah anak. Karena berharganya binatang tersebut, masyarakat membuat aturan adat yang disebut dengan sasi. Mereka mengatur masa jeda penangkapan agar keberadaan kepiting tetap lestari.

Baca juga: Kampung Mandoni, Kampung Kepiting Bakau

Masyarakat Modan memanfaatkan hutan mangrove yang tumbuh di air kabur tersebut dengan menangkap kepiting dan udang yang bermukim di sana sebagai sumber mata pencaharian. Ketika kepiting dan udang susah dicari, mereka menjual semangka dan kangkung yang mereka tanam sebagai sumber pendapatan alternatif.

Kampung Sidomakmur juga ditumbuhi mangrove air kabur. Masyarakat biasa menangkap kepiting dan udang di hutan tersebut untuk dijual. Saat sedang tidak musim panen kepiting dan udang, mereka menjual semangka dan kangkung yang mereka tanam sebagai sumber pendapatan alternatif.

Masyarakat Mugim mengambil ikan, kepiting, dan udang yang hidup di hutan bakau itu untuk disantap sebagai lauk, dan dijual ke pasar. Mereka menjaga ekosistem mangrove tersebut dengan menetapkan aturan. Antara lain melarang masyarakat menjual kepiting betina atau kepiting kecil untuk menjaga keberadaan bintang yang menjadi sumber penghasilan mereka itu.

Masyarakat Kampung Nusa memanfaatkan keberadaan hutan itu dengan mengambil ikan, kepiting, dan udang untuk memenuhi kebutuhan lauk mereka juga menjualnya ke pasar untuk mendapatkan uang. Mereka bersama-sama menjaga rimba itu dengan menetapkan aturan, seperti melarang masyarakat menjual kepiting betina atau kepiting kecil agar kepiting yang menjadi sumber penghidupan mereka tetap ada.

Berbeda dengan daerah lain, Weilebet ditumbuhi mangrove air jernih (blue water mangrove), yakni hutan mangrove dengan kondisi air yang jernih dan substrat pasir hingga berkarang. Di kampung ini, tim menemukan mangrove endemik Camptostemon schultzii dan Xanthostemon. Masyarakat biasa menangkap ikan kakap merah, kepiting, dan udang di hutan bakau itu untuk disantap sebagai lauk, juga dijual ke pasar. Mereka menerapkan aturan agar ekosistem itu tetap terjaga. Antara lain melarang masyarakat menjual kepiting betina atau kepiting kecil.

West Papua : Mangrove Expedition Team

The following are the Team who joined the expedition:
Bustar_resized

Bustar Maitar

CEO EcoNusa

Nina Nuraisyah

Manajer Komunikasi Strategis - Yayasan EcoNusa

Wiro Wirandi

Manajer Program Kelautan - Yayasan EcoNusa

Aloisius Numbery

Yayasan EcoNusa

Sumardi Ariansyah

Yayasan EcoNusa

#EkspedisiEcoNusa

Copyright ©2021.
EcoNusa Foundation
All Rights Reserved
Copyright ©2021.
EcoNusa Foundation
All Rights Reserved