Para-Para

Memberi Makna dalam Momentum Penting

Foto bersama relawan AMJI Titik Utama

Ada banyak momentum baik di lingkup organisasi maupun di level pemerintahan yang terjadi menjelang akhir 2022 ini. EcoNusa mencoba memanfaatkan momentum-momentum tersebut sebagai sarana untuk mengukuhkan komitmen dan keberpihakannya pada isu-isu hijau. 

Dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda, EcoNusa bersama seluruh elemen masyarakat dan pemerintah turut memfasilitasi komunitas Penjaga Laut untuk menggerakkan kaum muda untuk Aksi Muda Jaga Iklim (AMJI) pada 29 Oktober 2022. Titik utama kegiatan ini dilakukan di Tangerang Mangrove Center di Tanjung Pasir, Tangerang.

Lebih dari 9 ribu peserta bergerak serentak di 279 titik yang melibatkan 89 kolaborator untuk melakukan aksi nyata. Lebih dari 3.700 bibit pohon dan 10.000 bibit mangrove ditanam pada hari itu. Kaum muda ini juga berhasil mengumpulkan sekitar 1,3 ton sampah logam, 2,9 ton sampah plastik, dan 8 ton sampah lainnya.

Baca juga: Aksi Muda Jaga Iklim, Aksi Bersama Orang Muda untuk Kurangi Dampak Krisis Iklim.

Angka-angka itu sebagai penanda dan pelecut motivasi ketika anak muda melakukan aksi nyata untuk lingkungan. Kami sepakat bahwa momen itu bukan berhenti sebagai sekedar seremoni saja. Justru itu menjadi titik awal untuk membangun aksi yang lebih luas yang membangun kesadaran publik lebih banyak lagi bahwa krisis iklim sedang terjadi dan perlu aksi untuk mengatasi.

Setelah AMJI, EcoNusa bergerak untuk turut hadir dalam Konferensi Perubahan Iklim atau (COP) ke 27 di Sharm El Sheikh, Mesir, pada 6-18 November. Dalam perhelatan iklim ini, Indonesia cukup dipandang karena penurunan angka deforestasinya dan peningkatan target NDC (Nationally Determined Contribution) menjadi 31,89 persen pada 2030 dan 43,20 persen dengan dukungan internasional. Sedikit banyak lembaga ini turut mendukung komitmen Pemerintah Indonesia dalam isu ekologis tersebut, misalnya dengan pencabutan lebih dari 350 hektare izin perusahaan perkebunan kelapa sawit di Papua Barat pada 2021 lalu. 

Baca juga: Menjaga Iklim, Anak Muda Tak Boleh Lelah untuk Berproses

Bersamaan dengan acara COP27, EcoNusa juga turut hadir di sela-sela acara Konferensi Tingkat Tinggi G20 ke-17 di Bali. Setidaknya EcoNusa turut berpartisipasi melalui acara-acara di B20 yang cukup strategis untuk menyampaikan inisiatif lembaga. Kami juga mengenalkan produk hasil olahan komoditas unggulan dari Tanah Papua seperti sereh wangi, keladi, pisang, dan jamur pada G20 Bamboo Forest at Future SME Village, Nusa Dua, Bali. Kehadiran Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siti Nurbaya Bakar, Menteri Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah, Teten Masduki, dan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Uno, secara tak langsung telah memberikan apresiasi dan rekognisi produk lokal dari Tanah Papua. 

Sejalan dengan perjalanan lembaga dalam memperjuangkan kedaulatan masyarakat adat atas sumber daya alam hutan dan laut di wilayah timur Indonesia, EcoNusa juga sedang fokus dalam pengembangan perusahaan sosial Kobumi. Perusahaan sosial ini berusaha menjembatani komoditas lokal dengan akses pasar lokal, nasional, maupun internasional. 

Baca juga: Cuaca Ekstrem, Alarm untuk Lakukan Aksi Muda Jaga Iklim

Kobumi menciptakan inovasi keberlanjutan dengan mengembangkan nilai tambah produk lokal dari masyarakat adat. Tujuannya untuk mendukung ekonomi lokal sambil menjaga keberlanjutan sumber daya alam. Hal ini dilakukan sebagai dukungan terhadap program perhutanan sosial dan pengakuan hak masyarakat adat dari pemerintah. 

Kami merajut momen-momen penting tersebut untuk mengukuhkan posisi EcoNusa sebagai lembaga yang berusaha memberi benih baik yang berdampak sosial, ekonomi, budaya, maupun ekologis terutama di wilayah timur Indonesia. Momen tersebut sekaligus meyakinkan kami bahwa kami berjalan bersama banyak pihak, terutama pemerintah pusat dan daerah, pemangku kepentingan, dan masyarakat di akar rumput demi sebuah perjuangan untuk kebaikan bersama. 

Bustar Maitar

Para-para Lainnya

Copyright ©2022.
EcoNusa Foundation
All Rights Reserved