3 Pembungkus Makanan Tradisional Ramah Lingkungan Pengganti Plastik & Styrofoam

Bagikan tulisan ini

Siapa nih yang hobinya jajan? Terutama di saat pandemi ini, pasti banyak di antara kita yang membeli makanan dari luar untuk kemudian dimakan dari rumah. Saat membeli makanan untuk dibawa, makanan kita biasanya akan dibungkus dengan berbagai jenis pembungkus makanan, seperti misalnya kemasan yang terbuat dari plastik, kertas, dan styrofoam. 

Adanya wadah-wadah makanan siap bawa dan sekali pakai ini memang sangat praktis dan memudahkan. Tapi, di balik semua kepraktisan ini, kita juga harus waspada nih dengan dampak meningkatnya sampah pembungkus sekali pakai terhadap lingkungan.

Memang seberapa banyak dan bahaya sih?

Kamu mungkin sudah sering mendengar kalau jumlah sampah plastik di dunia terus meningkat. Di Indonesia sendiri, Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2021 menyebutkan kalau limbah plastik di Indonesia mencapai 66 juta ton per tahun. Lalu, penelitian dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) tahun 2018 di 18 kota di Indonesia menunjukkan bahwa 0,27-0,59 juta ton sampah masuk ke laut Indonesia. Dari jumlah tersebut, sampah yang paling banyak ditemukan adalah sampah styrofoam.

Padahal, styrofoam adalah salah satu bahan yang sulit terurai dan berbahaya bagi kesehatan manusia dan juga lingkungan. Proses pembuatan styrofoam hingga kini masih menggunakan chloro fluoro carbon (CFC) yang memperkuat efek rumah kaca dan menambah panas bumi. Nggak cuma itu, styrofoam juga mengandung mikroplastik yang ketika berakhir di lautan, bisa berbahaya bagi aneka biota laut yang mengira itu adalah makanan mereka.

Terus ada gak sih jenis pembungkus makanan yang lebih ramah lingkungan?

Jawabannya: ada dong! Bahkan, kebanyakan pembungkus makanan ramah lingkungan ini sebenarnya sudah digunakan oleh orang Indonesia sejak zaman dahulu sebelum ditemukannya kemasan makanan dari plastik, kertas, maupun styrofoam. Ini dia beberapa di antaranya!

1. Besek

Familiar dong dengan jenis kemasan yang satu ini? Yap, besek adalah tempat yang terbuat dari anyaman bambu dan banyak digunakan oleh masyarakat Jawa sejak dulu. Biasanya, jenis bambu yang digunakan untuk membuat besek adalah bambu apus.  Besek ini multifungsi, lho! Misalnya bisa untuk menyimpan aneka bumbu dapur, seperti bawang putih dan bawang merah, wadah nasi dan lauk pauknya, hingga wadah bingkisan sembako.

Karena terbuat dari bahan alami, besek tentunya lebih ramah lingkungan. Belakangan ini pun telah muncul gerakan seperti From Kresek to Besek yang mengajak masyarakat untuk menjadikan besek sebagai pembungkus daging kurban, alih-alih menggunakan kantong plastik sekali pakai.

2. Daun pisang

Di Indonesia, daun pisang sudah banyak digunakan untuk membungkus berbagai jenis makanan, mulai dari aneka jenis kue hingga nasi dan lauk pauknya. Selain relatif mudah ditemukan dan murah, menggunakan daun pisang sebagai wadah makanan merupakan pilihan yang lebih ramah lingkungan karena bisa terurai dalam waktu yang singkat. Nggak cuma itu, daun pisang juga memiliki lapisan lilin yang dapat menambah aroma sedap ke makanan yang dibungkus. 

3. Daun jati

Selain daun pisang, jenis daun lainnya yang juga banyak digunakan sebagai pembungkus nasi adalah daun jati. Daun jati adalah pilihan yang tepat untuk membungkus makanan karena berbahan alami dan tidak mengandung bahan kimia yang berbahaya bagi tubuh, mudah didapat, ekonomis, mudah terurai, dan memiliki aroma khas. Selain itu, karena daun jati bertekstur tebal dan lebar, maka nasi yang dibungkus pun bisa tetap hangat dalam waktu yang lebih lama. Karena keistimewaannya ini, kini sudah ada juga lho produk piring yang berbahan dasar daun jati!

Ternyata, ada cukup banyak pilihan pembungkus makanan pengganti plastik dan styrofoam yang bisa kita gunakan ya! Kamu bisa juga lho mulai mengajak  anggota keluarga, teman, dan para penjual makanan di sekitar tempat tinggalmu untuk ikut beralih menggunakan wadah-wadah makanan ramah lingkungan ini.

Dengan mengedukasi dan mengajak mereka, ini berarti kamu telah menjadi seorang diplomat lingkungan yang berkontribusi dalam usaha pelestarian lingkungan. Keren, kan? Agar bisa lebih siap menjadi diplomat lingkungan, coba deh ikutan School of Eco Diplomacy yang diadakan Yayasan EcoNusa! Supaya enggak ketinggalan informasi lengkap SED berikutnya, jangan lupa pantau website dan media sosial EcoNusa, ya!

Berita lainnya

Copyright ©2022.
EcoNusa Foundation
All Rights Reserved