4 Hewan Langka dan Asli Papua yang Perlu Kamu Tahu

Bagikan tulisan ini

Kalau diminta menyebutkan hewan khas Papua, hewan apa saja nih yang melintas di benakmu? Mungkin kamu sudah sering mendengar sejumlah hewan endemik  Papua, seperti burung cenderawasih, burung kasuari, dan kanguru pohon. Namun, sebenarnya selain ketiga hewan tersebut, Papua memiliki banyak hewan endemik lainnya, lho! Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mencatat bahwa sampai dengan tahun 2019, terdapat 241 spesies mamalia di Papua. Jumlah ini belum mencakup keragaman spesies lainnya, seperti ratusan jenis burung dan aneka spesies laut. Wow, banyak sekali, ya!

Penelitian mengenai keragaman flora dan fauna di Papua pun terus berlanjut hingga kini. Salah satu penelitian terbesar yang dilakukan untuk menyingkap keanekaragaman hayati di pulau ini adalah Ekspedisi Langguru pada tahun 2014. Ekspedisi yang berlangsung selama 6 minggu oleh ratusan peneliti tersebut sukses menemukan 50 jenis spesies flora dan fauna baru dari taksa yang berbeda-beda, seperti burung, serangga, amfibi, karang, dan anggrek. Jadi makin penasaran gak sih dengan hewan-hewan endemik Papua lainnya? Kali ini, yuk berkenalan dulu dengan 4 di antaranya!

1. Burung Mambruk

Selain burung cenderawasih, Papua juga menjadi rumah bagi burung-burung cantik lainnya, termasuk burung mambruk. Mambruk (Goura sp.) adalah burung yang termasuk dalam famili atau kelompok merpat. Burung ini berukuran besar, bulunya didominasi warna biru keabu-abuan, bermata merah, dan yang menjadi ciri khasnya adalah keberadaan mahkota di atas kepalanya. Mambruk sendiri terbagi ke dalam 3 jenis, yaitu mambruk selatan (Goura scheepmakeri), mambruk victoria (Goura victoria), dan mambruk ubiaat (Goura cristata). Secara umum, persebaran Mambruk berada di seluruh wilayah Papua, seperti misalnya di hutan-hutan di Biak dan Mimika. Sayangnya, Mambruk juga termasuk burung yang sering diburu karena keindahan mahkotanya dan dagingnya yang dianggap enak untuk dikonsumsi. Oleh karenanya, populasinya pun terus menurun dan bahkan tercatat dalam kategori rentan di daftar satwa terancam Badan Konservasi Alam Internasional (IUCN).

2. Dingiso

Di kawasan Taman Nasional Lorentz Papua pada ketinggian 3.200-4.400 mdpl, terdapat spesies endemik Papua lainnya yang bernama dingiso. Hewan ini hidup di area pepohonan, memiliki panjang kepala 52-81 cm, panjang ekor 40-94 cm, berat antara 6,5-14,5 kg, dan memiliki gaya berjalan yang mirip dengan kanguru pohon. Dalam bahasa lokal suku Moni, Dingiso berarti binatang sakral karena penduduk lokal percaya bahwa dingiso merupakan leluhur mereka. Sejak pertama kali ditemukan pada sebuah penelitian oleh Dr Tim Flannery pada tahun 1994, hewan yang satu ini memang sangat jarang dijumpai. Dalam daftar yang dibuat oleh  IUCN, dingiso pun masuk ke dalam kategori hewan yang sangat langka. 

3. Kuskus Waigeo

Sesuai dengan namanya, kuskus Waigeo adalah jenis kuskus yang berasal dari Pulau Waigeo, Papua Barat. Selain di pulau tersebut, kuskus jenis ini dapat ditemukan di pulau-pulau kecil lainnya di Papua Barat. Lalu, kuskus Waigeo juga dikenal dengan nama sebutan lain, yaitu kuskus scham-scham. Tak hanya namanya yang unik, penampilan kuskus ini pun terbilang unik. Bulu mereka didominasi oleh warna putih yang dihiasi oleh sejumlah corak tutul berwarna hitam, serta berbola mata merah. Panjang kuskus Waigeo yang jantan berkisar antara 497-560 mm, sementara yang betina sekitar 472 mm dengan berat mencapai 2,65 kg. Kuskus Waigeo termasuk hewan yang aktif di malam hari dan pemalu atau jarang menampakkan diri mereka. Akan tetapi, ketika terancam mereka bisa berubah menjadi konfrontatif terhadap musuhnya. Sama seperti kedua spesies sebelumnya, kuskus Waigeo juga termasuk hewan yang tergolong langka dan berstatus dilindungi. 

4. Labi-Labi Moncong Babi

Siapa yang sudah pernah tahu atau dengar tentang labi-labi? Hewan yang satu ini adalah jenis kura-kura bercangkang lunak atau penyu air tawar cangkang lunak. Salah satu spesies labi-labi yang unik dan merupakan hewan endemik Papua adalah labi-labi moncong babi. Sesuai namanya, ciri khas spesies ini adalah moncong atau hidungnya yang menyerupai moncong babi. Labi-labi moncong babi hidup di wilayah air tawar atau payau. Mereka termasuk hewan omnivora yang dapat mengonsumsi berbagai jenis makanan, seperti buah, cacing, hingga anak tikus. Seperti telur penyu, telur labi-labi moncong babi sayangnya juga sering diambil secara ilegal. Maka, tak heran kalau jenis labi-labi ini sudah termasuk dalam daftar satwa yang terancam keberadaannya dalam daftar yang dibuat oleh IUCN dan jenis satwa yang dilindungi sesuai dengan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Ketuhanan (LHK) 20 tahun 2018.

Selain keempat fauna ini, masih ada banyak lagi hewan endemik Papua yang menarik untuk diketahui dan dipelajari. Bahkan, banyak di antaranya yang belum diketahui informasinya secara lengkap sehingga masih perlu diteliti lebih lanjut. Nah, hal ini merupakan salah satu peran penting peneliti di Indonesia sebagai negara mega biodiversitas. Saat ini, negara kita membutuhkan banyak peneliti untuk mengeksplor kekayaan flora dan fauna yang ada. Karena kalau bukan kita sendiri sebagai orang Indonesia yang menelitinya siapa lagi?

Kalau kamu mulai tertarik untuk menjadi peneliti muda yang menyingkap keanekaragaman hayati di Indonesia, khususnya Papua, kamu bisa banget nih ikutan program Ilmuwan Muda Papua yang diadakan oleh Yayasan EcoNusa. Melalui program ini, kamu berkesempatan untuk mengikuti workshop dan bootcamp sebagai persiapan penelitian, mendapat bimbingan dari pakar selama penelitian, hingga mempublikasikan hasil penelitian. Menarik sekali, kan?

Berita lainnya

Copyright ©2022.
EcoNusa Foundation
All Rights Reserved