EcoStory

Kader Kampung Belajar Pemetaan dan Sistem Informasi Kampung

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Para kader sedang belajar pemetaan oleh mentor. Dok. EcoNusa/ Jemima Desy Wanma

Kader-kader kampung harus memiliki kemampuan untuk melakukan pemetaan dan pengolahan Sistem Informasi Desa/Kampung karena menjadi dasar dalam pengelolaan ruang kehidupan dan pembangunan desa atau kampung secara berkelanjutan. Hal tersebut melatarbelakangi pelaksanaan kegiatan mentoring pemetaan dan sistem informasi kampung School of Eco-Involvement (SEI) hasil kerjasama EcoNusa dengan INSIST dan Yayasan Mitra Aksi. 

Kegiatan yang telah berlangsung di Laboratorium Geo-Spatial Mitra Aksi dan Sekolah Pijoan Jambi selama 26 hari pada Juni 2021 lalu diikuti oleh kader-kader kampung terpilih yang berasal dari berbagai wilayah, yaitu Merauke, Maluku, Yogyakarta, dan Pekanbaru. Pesertanya terdiri dari kader-kader yang sebelumnya telah mengikuti School of Social Transformation (STS) atau Sekolah Kampung, bagian dari program SEI EcoNusa.   

Melalui kegiatan ini, para kader kampung memperoleh pendidikan lanjutan dan peningkatan kapasitas agar dapat menjadi mentor bagi kader lokal lainnya di kampung masing-masing. Selama mengikuti pelatihan mereka belajar  tentang kemampuan dasar pemetaan; Sistem Informasi Kampung (SI-Kampung) dengan menggunakan berbagai aplikasi dan alat seperti QGIS, Sas Planet, GPS, maupun Global Mapper; memahami aplikasi QGIS atau perangkat Sistem Informasi Geografis/SIG open source yang menyediakan sejumlah kemampuan seperti menampilkan, mengelola, mengedit, menganalisa data dan menyusun peta untuk dicetak; Download Citra; Web dan Web GIS; dan olah data spasial. 

Peserta pelatihan sedang belajar pemetaan. Foto: Dok. EcoNusa.

“Aplikasi QGIS untuk pembuatan peta, gratis, dan tidak ada tuntutan lisensi. Aplikasi ini membantu kita belajar mengidentifikasi peta Indonesia atau memisahkan provinsi atau wilayah satu dengan wilayah lainnya. Ini merupakan langkah awal dalam pembuatan peta dengan semua item yang ada. Misalnya saja, peta yang mencakup kondisi hutan, kondisi tutupan, kondisi laut, permukiman, jalan dan lain sebagainya,” kata Gie, Manager Yayasan Mitra Aksi dan salah satu pemateri kegiatan.

Tak hanya itu, peserta juga diajarkan kemampuan dasar mengukur pH (derajat keasaman) Tanah, pH Air, dan Total Dissolved Solid (TDS) atau total zat terlarut untuk mengetahui kelayakan air yang mengalir di kampung untuk dikonsumsi. 

Pembelajaran dan peningkatan kapasitas yang diberikan kepada kader-kader kampung tersebut memberikan penguatan dan peningkatan kemampuan dalam hal pemetaan dan pengolahan Sistem Informasi Kampung untuk mendukung kemajuan pembangunan kampung. Kader-kader ini disiapkan agar dapat menerapkan ilmu dan kemampuan tersebut dalam rencana pembangunan desa di kampung atau desa masing-masing. 

“Penyusunan jangka menengah maupun jangka panjang dalam rencana pembangunan desa atau kampung terlebih dahulu harus berdasarkan potensi ruang dan fakta di lapangan. Dari pelatihan ini, para peserta dituntut untuk dapat melakukan penyiapan, proses dan pelaksanaannya, juga memahami dasar-dasar Sistem Informasi Desa (SID) atau Sistem Informasi Kampung (SI-Kampung), mendata kondisi spastial, sosial masyarakat, dan tematik isu sehingga nantinya bisa diterapkan di wilayahnya masing-masing,” ujar Hambali, pengurus Yayasan Mitra Aksi yang turut terlibat dalam kegiatan.  

Peserta pelatihan sedang belajar Sistem Informasi Desa/ Kampung. Dok. EcoNusa

Hambali juga berharap kegiatan ini dapat menghasilkan kader-kader yang nantinya menjadi mentor handal di kampung masing-masing. Mereka mampu memanfaatkan alat serta teknologi yang diajarkan tersebut sebagai pembelajaran baru masyarakat. Hal ini menjadi strategi dalam analisis suatu masalah maupun strategi pengorganisasian yang membutuhkan data-data.

Selain pembelajaran di dalam kelas, peserta juga menjalani kegiatan lapangan untuk mengetahui praktik pemanfaatan SID dalam perencanaan desa yang telah dilakukan oleh masyarakat dampingan Yayasan Mitra Aksi di Jangkat, Merangin, Jambi. Mereka juga mengetahui penggunaan data-data desa untuk mengetahui potensi desa yang digunakan untuk merancang peraturan desa di Jangkat. 

Setelah mengikuti seluruh rangkaian kegiatan, para peserta menyusun rencana tindak lanjut untuk tiga bulan selanjutnya untuk diimplementasikan di kampung masing-masing mulai bulan Juli hingga September. 

“Pelatihan ini bermanfaat bagi kader-kader kampung agar mereka lebih mengetahui keadaan kampungnya, mengenal potensi dan tata guna lahan, mengetahui berapa hutan yang tersisa, ada atau tidaknya alih fungsi lahan yang terjadi di desa masing-masing. Harapannya, ilmu yang didapatkan dari kegiatan ini dapat dijadikan bekal selanjutnya untuk membantu para pemangku kepentingan di kampung atau desa dalam melakukan perencanaan kampung atau desanya,” ujar Jemima Desy Wanma, Perwakilan dari Tim PSDA EcoNusa yang terlibat dalam kegiatan tersebut.

Editor: Leo Wahyudi

EcoBlogs Lainnya

Copyright ©2021.
EcoNusa Foundation
All Rights Reserved
Copyright ©2021.
EcoNusa Foundation
All Rights Reserved